LKS DAN POLA PIKIR PRAGMATIS

LKS DAN POLA PIKIR PRAGMATIS

Oleh: NUR ROZUQI*

1. Pendahuluan

Lembar Kerja Siswa (LKS) telah lama menjadi instrumen pembelajaran yang populer di sekolah-sekolah Indonesia. Dari jenjang SD/MI hingga SMA/MA/SMK, LKS digunakan sebagai alat bantu guru dalam menyampaikan materi dan mengevaluasi pemahaman murid. Namun, di balik kemudahan dan efisiensinya, penggunaan LKS secara masif dan tidak kritis justru dapat membentuk pola pikir pragmatis pada murid yakni cara berpikir yang hanya berorientasi pada hasil akhir, bukan proses pembelajaran yang bermakna.

mostbet

2. Kondisi Faktual

a. LKS sering kali berisi soal-soal langsung tanpa ruang eksplorasi, refleksi, atau diskusi.
b. Banyak guru menjadikan LKS sebagai sumber utama pembelajaran, bahkan menggantikan buku teks dan aktivitas kontekstual.
c. Murid terbiasa menyelesaikan LKS dengan cara menyalin jawaban dari kunci atau sumber lain, tanpa memahami konsep dasar.
d. Penilaian berbasis LKS cenderung menekankan pada skor dan kelulusan, bukan proses berpikir atau pengembangan karakter.

3. Dampaknya

a. Pola pikir pragmatis:
Murid cenderung belajar hanya untuk menyelesaikan tugas, bukan untuk memahami atau mengembangkan wawasan.

b. Minim kreativitas dan refleksi:
LKS jarang mendorong murid untuk berpikir kritis, bertanya, atau mengembangkan gagasan sendiri.

c. Ketergantungan pada format:
Murid menjadi pasif dan tidak terbiasa merancang strategi belajar atau menyusun pemahaman secara mandiri.

d. Reduksi makna belajar:
Pendidikan menjadi sekadar proses teknis, bukan pengalaman yang membentuk nilai, sikap, dan keterampilan hidup.

4. Rekomendasi Solusif

a. Redesain LKS berbasis proses:
LKS perlu dirancang ulang agar memuat pertanyaan terbuka, studi kasus, dan ruang refleksi.

b. Integrasi dengan pembelajaran kontekstual:
LKS sebaiknya menjadi pelengkap dari kegiatan proyek, diskusi, dan simulasi yang relevan dengan kehidupan murid.

c. Pelatihan guru tentang pembelajaran reflektif:
Guru perlu dibekali dengan pendekatan pedagogis yang menekankan proses, bukan sekadar hasil.

d. Libatkan murid dalam penyusunan LKS:
Murid dapat dilibatkan dalam membuat soal atau skenario pembelajaran, sehingga mereka merasa memiliki proses belajar.

e. Evaluasi berbasis proses dan portofolio:

Penilaian sebaiknya mencakup aspek proses berpikir, kerja sama, dan refleksi, bukan hanya jawaban benar.

5. Penutup

LKS bukanlah alat yang sepenuhnya buruk, tetapi penggunaannya yang tidak kritis dan berorientasi pada hasil semata dapat membentuk pola pikir pragmatis yang merugikan murid. Pendidikan seharusnya membangun proses berpikir, karakter, dan keterampilan hidup. Saatnya kita mendidik dengan cara yang membebaskan, reflektif, dan kontekstual menjadikan LKS sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar lembar tugas.

Terima kasih, semoga barokah, Aamiin…

*Penulis adalah
Direktur Pusbimtek Palira
Ketua Umum DPP LKDN

Bagikan manfaat >>

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ada yang bisa kami bantu? .
Image Icon
Profile Image
Bimtek Palira Perlu bantuan ? Online
Bimtek Palira Mohon informasi tentang bimtek :