PROYEK MAKAN BERGIZI GRATIS PERAN TEKNOLOGI DALAM MONITORING DAN EVALUASINYA SANGAT LEMAH

PROYEK MAKAN BERGIZI GRATIS PERAN TEKNOLOGI DALAM MONITORING DAN EVALUASINYA SANGAT LEMAH

Oleh: NUR ROZUQI*

A. Pendahuluan

Program Makan Bergizi Gratis bertujuan meningkatkan status gizi anak dan remaja melalui distribusi makanan sehat. Namun, dari dimensi infrastruktur dan logistik, kelemahan terbesar terletak pada peran teknologi dalam monitoring dan evaluasi yang sangat lemah bahkan nyaris tidak tampak. Padahal, teknologi seharusnya menjadi instrumen penting untuk memastikan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program. Tanpa dukungan teknologi, kebijakan berisiko tidak terukur dan sulit diawasi.

mostbet

B. Dasar Hukum

1. UUD 1945 Pasal 28F: menjamin hak warga negara untuk memperoleh informasi, termasuk transparansi kebijakan publik.
2. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara: menegaskan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan anggaran.
3. UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah: memberi kewenangan daerah untuk melaksanakan program dengan prinsip akuntabilitas berbasis data.
4. UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan: menekankan pentingnya pengawasan mutu dan distribusi pangan.
5. RPJMN dan SDGs Tujuan 16: menekankan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi informasi.

Dasar hukum ini menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi berbasis teknologi adalah keharusan, bukan pilihan.

C. Analisis Kritis

1. Monitoring Manual yang Lemah:
Program masih bergantung pada laporan manual dari birokrasi, yang rawan manipulasi dan tidak real-time.

2. Tidak Ada Sistem Digital:
Minimnya penggunaan aplikasi atau dashboard digital membuat distribusi makanan sulit diawasi secara transparan.

3. Risiko Kebijakan:
Tanpa teknologi, kebocoran anggaran dan penyalahgunaan distribusi sulit dideteksi. Program berisiko menjadi ladang korupsi.

4. Dampak Sosial:
Masyarakat kehilangan kepercayaan karena tidak ada transparansi data. Orang tua dan sekolah tidak bisa memantau kualitas maupun jumlah makanan yang diterima.

5. Dampak Kesehatan:
Evaluasi gizi anak tidak terukur dengan baik, sehingga program gagal menunjukkan dampak nyata terhadap penurunan stunting atau malnutrisi.

6. Alternatif Solusi:
a. Membangun sistem monitoring digital berbasis aplikasi yang dapat diakses publik.
b. Menggunakan teknologi blockchain atau sistem audit digital untuk mencegah manipulasi data.
c. Melibatkan sekolah, puskesmas, dan masyarakat dalam sistem pelaporan berbasis teknologi.
d. Menetapkan indikator evaluasi yang jelas dan terintegrasi dengan data kesehatan anak.

D. Kesimpulan

Proyek Makan Bergizi Gratis dengan peran teknologi monitoring dan evaluasi yang lemah bahkan tidak tampak adalah kebijakan gagal dari dimensi infrastruktur dan logistik. Tanpa sistem digital yang transparan, program tidak dapat diawasi, tidak terukur, dan berisiko tinggi terhadap kebocoran serta korupsi.

E. Penutup

Analisis ini menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan gizi bergantung pada teknologi monitoring dan evaluasi yang kuat. Program Makan Bergizi Gratis akan relevan jika dilengkapi dengan sistem digital yang transparan, akuntabel, dan partisipatif. Dengan demikian, program tidak hanya meningkatkan status gizi, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan.

Terima kasih, semoga barokah, Aamiin…

*Penulis adalah
Direktur Pusbimtek Palira
Ketua Umum DPP LKDN

Bagikan manfaat >>

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ada yang bisa kami bantu? .
Image Icon
Profile Image
Bimtek Palira Perlu bantuan ? Offline
Bimtek Palira Mohon informasi tentang bimtek :