DIKSI TIMPANG DALAM LKS

DIKSI TIMPANG DALAM LKS

Oleh: NUR ROZUQI*

1. Pendahuluan

Lembar Kerja Siswa (LKS) telah menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia. Dari SD/MI hingga SMA/MA/SMK, LKS digunakan sebagai alat bantu guru untuk menyampaikan materi dan mengevaluasi pemahaman murid. Namun, di balik fungsinya yang praktis, banyak LKS justru memuat diksi atau pilihan kata yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif dan usia murid. Ketimpangan bobot bahasa ini dapat menghambat pemahaman, menurunkan minat belajar, dan memperlemah fondasi literasi peserta didik.

2. Kondisi Faktual

a. Banyak LKS menggunakan istilah teknis, abstrak, atau akademik tinggi tanpa penjelasan yang memadai, bahkan untuk jenjang SD/MI.
b. Diksi yang digunakan sering kali tidak mempertimbangkan tahap perkembangan bahasa anak, sehingga terasa asing dan sulit dipahami.
c. Tidak sedikit LKS yang merupakan hasil salin-tempel dari sumber lain tanpa proses penyederhanaan atau adaptasi bahasa.
d. Guru dan penyusun LKS sering kali tidak melibatkan ahli bahasa atau tidak melakukan uji keterbacaan sebelum LKS digunakan di kelas.

3. Dampaknya

a. Kesulitan memahami isi:
Murid mengalami kebingungan karena tidak memahami istilah atau kalimat yang digunakan dalam LKS.

b. Menurunnya minat belajar:
Bahasa yang terlalu berat membuat murid merasa tertekan dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan tugas.

c. Terhambatnya perkembangan literasi:
Murid tidak mendapatkan pengalaman membaca yang sesuai dengan tahap perkembangannya, sehingga kemampuan membaca dan menulis tidak berkembang optimal.

d. Kesenjangan pemahaman antar murid:
Murid dengan latar belakang literasi rendah akan semakin tertinggal karena tidak mampu mengikuti materi yang disampaikan dalam bahasa yang tidak ramah usia.

4. Rekomendasi Solusif

a. Penyusunan LKS berbasis keterbacaan:
Gunakan indikator keterbacaan (seperti tingkat kesulitan kata dan struktur kalimat) yang sesuai dengan jenjang pendidikan murid.

b. Libatkan ahli bahasa dan pendidik:
Proses penyusunan LKS sebaiknya melibatkan guru kelas, ahli bahasa, dan praktisi pendidikan anak.

c. Uji coba dan revisi:
LKS perlu diuji coba terlebih dahulu kepada kelompok kecil murid untuk melihat apakah bahasa yang digunakan dapat dipahami dengan baik.

d. Gunakan pendekatan kontekstual dan komunikatif:
Pilih diksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari murid agar mereka dapat mengaitkan materi dengan pengalaman nyata.

e. Pelatihan guru dalam penyederhanaan bahasa:
Guru perlu dibekali keterampilan menyusun materi dengan bahasa yang efektif, komunikatif, dan sesuai usia.

5. Penutup

LKS seharusnya menjadi jembatan antara materi pelajaran dan pemahaman murid, bukan menjadi tembok penghalang karena bahasa yang tidak ramah usia. Ketimpangan diksi dalam LKS bukan hanya soal teknis, tetapi menyangkut hak murid untuk belajar dengan nyaman dan bermakna. Saatnya kita meninjau ulang kualitas bahasa dalam setiap LKS yang digunakan, agar pendidikan benar-benar menjadi ruang tumbuh yang inklusif, komunikatif, dan memberdayakan.

Terima kasih, semoga barokah, Aamiin…

*Penulis adalah
Direktur Pusbimtek Palira
Ketua Umum DPP LKDN

Bagikan manfaat >>

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ada yang bisa kami bantu? .
Image Icon
Profile Image
Bimtek Palira Perlu bantuan ? Offline
Bimtek Palira Mohon informasi tentang bimtek :