PERSEPSI MASYARAKAT DAN PARTISIPASI ORANG TUA ATAS PROYEK MAKAN BERGIZI GRATIS NEGATIF

PERSEPSI MASYARAKAT DAN PARTISIPASI ORANG TUA ATAS PROYEK MAKAN BERGIZI GRATIS NEGATIF

Oleh: NUR ROZUQI*

A. Pendahuluan

Program Makan Bergizi Gratis dirancang untuk meningkatkan status gizi anak dan remaja sekaligus memperkuat partisipasi sosial melalui keterlibatan orang tua. Namun, ketika persepsi masyarakat tetap negatif dan partisipasi orang tua rendah, maka tujuan program tidak tercapai. Pendahuluan ini menekankan bahwa keberhasilan kebijakan gizi tidak hanya bergantung pada distribusi makanan, tetapi juga pada penerimaan sosial dan dukungan keluarga.

mostbet

B. Dasar Hukum

1. UUD 1945 Pasal 28H ayat (1): menjamin hak atas kesehatan dan kesejahteraan.
2. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan: menegaskan kewajiban negara menyediakan makanan bergizi.
3. UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah: memberi kewenangan daerah melaksanakan program kesehatan dan pendidikan dengan prinsip akuntabilitas.
4. RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional): menargetkan penurunan angka stunting dan peningkatan kualitas SDM.
5. SDGs Tujuan 2 dan 3: menghapus kelaparan dan meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.

Dasar hukum ini sah, tetapi implementasi harus didukung oleh penerimaan masyarakat dan partisipasi orang tua agar efektif.

C. Analisis Kritis

1. Persepsi Masyarakat yang Negatif:
Banyak masyarakat menilai program tidak transparan, kualitas makanan rendah, atau distribusi tidak merata. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

2. Partisipasi Orang Tua yang Rendah:
Orang tua sering tidak dilibatkan dalam perencanaan menu, pengawasan distribusi, atau evaluasi dampak. Akibatnya, mereka merasa program tidak relevan dengan kebutuhan anak.

3. Dimensi Sosial:
Persepsi negatif memperlemah solidaritas komunitas. Program yang seharusnya memperkuat peran keluarga justru menimbulkan jarak antara masyarakat dan pemerintah.

4. Dimensi Kesehatan:
Tanpa dukungan orang tua, anak-anak tidak mendapatkan pengawasan gizi yang berkelanjutan di rumah. Program hanya berhenti pada distribusi makanan di sekolah tanpa perubahan perilaku makan.

5. Risiko Kebijakan:
Dana publik terbuang untuk program yang tidak diterima masyarakat, sementara masalah gizi tetap tinggi.

6. Alternatif Solusi:
Pemerintah harus melibatkan orang tua dalam perencanaan, menyediakan edukasi gizi, dan membuka ruang partisipasi masyarakat dalam pengawasan. Transparansi data dan kualitas makanan juga harus ditingkatkan.

D. Kesimpulan

Proyek Makan Bergizi Gratis yang dihadapkan pada persepsi masyarakat negatif dan partisipasi orang tua yang rendah adalah kebijakan yang gagal dari dimensi sosial dan kesehatan. Tanpa penerimaan publik dan dukungan keluarga, program tidak akan memberi dampak nyata terhadap status gizi anak dan remaja.

E. Penutup

Analisis ini menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan gizi tidak hanya bergantung pada distribusi makanan, tetapi juga pada penerimaan sosial dan partisipasi orang tua. Program Makan Bergizi Gratis akan relevan jika masyarakat percaya pada transparansi kebijakan dan orang tua dilibatkan aktif dalam perencanaan serta pengawasan. Dengan demikian, program dapat menjadi solusi sosial dan kesehatan yang efektif, bukan sekadar kebijakan tanpa manfaat.

Terima kasih, semoga barokah, Aamiin…

*Penulis adalah
Direktur Pusbimtek Palira
Ketua Umum DPP LKDN

Bagikan manfaat >>

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ada yang bisa kami bantu? .
Image Icon
Profile Image
Bimtek Palira Perlu bantuan ? Offline
Bimtek Palira Mohon informasi tentang bimtek :